Hot Posts

4/footer/recent

Comments

4/comments/show

Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer Bagian Satu

Sampul depan buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer

            Rabu, 5 November 2025 saya membaca buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer—catatan pulau buru, karya dari Pramoedya Ananta Toer. Sudah sejak lama kiranya saya ingin membaca buku ini. Bukan apa, tapi saya rasa perlu untuk mengetahui sejarah yang telah terjadi pada puluhan tahun silam. Seperti akronim jas merah yang maknanya ‘jangan sekali-kali melupakan sejarah’, saya merasa memikul tanggang jawab besar dalam kalimat tersebut. Terlebih, dalam blurb buku terdapat penggalan ucapan Pramoedya yang secara langsung memperuntukkan penulisan buku ini bagi kami, para perempuan, sebagai perhatian dan pelajaran penting.

Saya baru membaca satu bab, akan tetapi, tak henti-hentinya saya bergidik ngeri melihat kebijakan Dai Nippon atau Jepang atas Indonesia yang merujuk untuk para perawan remaja di masa itu. Semua taktik licik nan bengis dikerahkan untuk memenuhi nafsu para tentara dan pemerintah Jepang. Korbannya? Lebih luas lagi, tidak hanya perempuan Indonesia, tetapi juga perempuan-perempuan dari negara di Asia yang pernah diduduki Jepang, seperti Korea Selatan, Filipina, Cina, dan lainnya. Bahkan, Jepang juga melakukan kekerasan pada perempuan dari negaranya sendiri. Ironis sekali, bukan?!

Pengamat menilai apa yang telah diperbuat oleh Jepang merupakan pelanggaran kemanusiaan yang patut dibawa ke panggung peradilan. Namun, seperti yang telah saya paparkan di atas, Jepang sudah membuat taktik sedemikian rupa busuknya. Jepang berdalih bahwa, tindakan yang dilakukan oleh mereka didasarkan pada kerelaan kedua belah pihak. Dengan kata lain, perempuan-perempuan tersebut adalah Jugun Ianfu (Pekerja Seks Komersial). Meskipun begitu, hal ini tetap tidak dapat terelakkan, karena menurut catatan sejarah, korbannya adalah para perawan remaja dengan usia yang masih sangat muda.

Merespon dalih Jepang, Pramoedya Ananta Toer mengumpulkan bukti-bukti dan pernyataan di lapangan yang berkata sebaliknya. Kesaksian didapat dari banyak pihak, baik dari keluarga korban, pemerintah setempat, masyarakat, maupun Ia sendiri yang merupakan pelaku sejarah di masa pendudukan Jepang. Semua bukti dan kesaksian mengerucut pada sebuah premis bahwa ini adalah kekerasan besar yang terencana dan perlu dibawa ke ranah hukum.

Beberapa kesaksian mengungkap bahwa, Dai Nippon memberikan iming-iming kepada perawan remaja yang berusia belasan tahun(kebanyakan lulusan sekolah dasar) untuk melanjutkan sekolah di Tokyo atau Shonanto(Singapura). Para remaja yang ‘setuju’(pada faktanya banyak yang berangkat karena ancaman dan paksaan) akan dipersipakan keberangkatannya. Informasi ini menyebar melalui mulut ke mulut para petinggi, bukan secara resmi melalui media cetak atau keputusan tertulis pemerintahan. Hal inilah yang kemudian berimbas pada ketiadaan bukti-bukti tulisan.

Tulisan akan dilanjut pada bagian kedua setelah penulis membaca bab selanjutnya.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer Bagian Satu"

Posting Komentar