Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer Bagian Satu
![]() |
| Sampul depan buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer |
Saya baru membaca satu bab, akan tetapi, tak henti-hentinya saya
bergidik ngeri melihat kebijakan Dai Nippon atau Jepang atas Indonesia yang merujuk
untuk para perawan remaja di masa itu. Semua taktik licik nan bengis dikerahkan
untuk memenuhi nafsu para tentara dan pemerintah Jepang. Korbannya? Lebih luas
lagi, tidak hanya perempuan Indonesia, tetapi juga perempuan-perempuan dari
negara di Asia yang pernah diduduki Jepang, seperti Korea Selatan, Filipina,
Cina, dan lainnya. Bahkan, Jepang juga melakukan kekerasan pada perempuan dari
negaranya sendiri. Ironis sekali, bukan?!
Pengamat menilai apa yang telah diperbuat oleh Jepang merupakan
pelanggaran kemanusiaan yang patut dibawa ke panggung peradilan. Namun, seperti
yang telah saya paparkan di atas, Jepang sudah membuat taktik sedemikian rupa
busuknya. Jepang berdalih bahwa, tindakan yang dilakukan oleh mereka didasarkan
pada kerelaan kedua belah pihak. Dengan kata lain, perempuan-perempuan tersebut
adalah Jugun Ianfu (Pekerja Seks Komersial). Meskipun begitu, hal ini
tetap tidak dapat terelakkan, karena menurut catatan sejarah, korbannya adalah
para perawan remaja dengan usia yang masih sangat muda.
Merespon dalih Jepang, Pramoedya Ananta Toer mengumpulkan
bukti-bukti dan pernyataan di lapangan yang berkata sebaliknya. Kesaksian
didapat dari banyak pihak, baik dari keluarga korban, pemerintah setempat,
masyarakat, maupun Ia sendiri yang merupakan pelaku sejarah di masa pendudukan
Jepang. Semua bukti dan kesaksian mengerucut pada sebuah premis bahwa ini
adalah kekerasan besar yang terencana dan perlu dibawa ke ranah hukum.
Beberapa kesaksian mengungkap bahwa, Dai Nippon memberikan
iming-iming kepada perawan remaja yang berusia belasan tahun(kebanyakan lulusan
sekolah dasar) untuk melanjutkan sekolah di Tokyo atau Shonanto(Singapura).
Para remaja yang ‘setuju’(pada faktanya banyak yang berangkat karena ancaman
dan paksaan) akan dipersipakan keberangkatannya. Informasi ini menyebar melalui
mulut ke mulut para petinggi, bukan secara resmi melalui media cetak atau
keputusan tertulis pemerintahan. Hal inilah yang kemudian berimbas pada
ketiadaan bukti-bukti tulisan.
Tulisan akan dilanjut pada bagian kedua setelah penulis membaca bab
selanjutnya.

0 Response to "Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer Bagian Satu"
Posting Komentar