Hot Posts

4/footer/recent

Comments

4/comments/show

Apa Iya Selalu Ada Fesbuk di Hatiku?

tampilan tulisan facebook

Kalau ada tantangan untuk menghapus seluruh aplikasi di handphone dan menyisakannya satu, mungkin saya akan pilih Facebook (baca: fesbuk). Bukan karena saya aktif posting ini itu dan jadi seleb di sana, justru saya termasuk golongan orang-orang yang jarang life update di fesbuk (untuk sekarang ini). Lalu apa yang bikin saya susah hati untuk meninggalkannya? Jawabannya simpel, di fesbuk hampir semuanya ada.

Mau cari teman sesuai hobi dan minat, tinggal cari grup atau fanpage dengan kata kunci yang diinginkan. Jual beli dengan jangkauan luas dan mudah? Buka fitur marketplace atau ikut grup jual beli. Dari yang grosiran hingga eceran, semua bisa diborong dengan nego tipis-tipis dari kedua belah pihak. Sekarang, mau monetisasi juga sudah ada fesbuk pro, meskipun saya belum pernah mencobanya, tapi tagar yang dipakai teman-teman fesbuk saya selalu berhasil buat saya salfok.

Parahnya lagi, dulu pas masih SMP, saya menonton film atau series dari fesbuk. Kalian ga salah baca kok, dulu di fesbuk saya bener-bener nonton film yang durasinya hampir dua jam itu. Gatau sekarang masih ada atau tidak, wkwk. Yang kayak gini harusnya tidak boleh sih, jelas-jelas bajakan. Tapi zaman SMP dulu saya ya taunya film yang berhasil di-up di internet berarti ya sudah jelas boleh dan halal ditonton (dangkal memang).

Yaa begitulah fesbuk, hampir semuanya ada dan mudah dijangkau. Tapi masalahnya, kok masih banyak yang ‘ngece’ dengan kalimat “zaman sekarang kok masih main Fesbuk?!”. Hmm, bro berpikir fesbuk adalah aplikasi primitif yang available sampai tahun 2020 saja. Salah besar, fesbuk lebih dari itu.

Dilansir dari Goodstats, pengguna fesbuk mendominasi di berbagai kalangan usia, mulai dari Gen z hingga lansia. Di Indonesia, total pengguna sebanyak 174 juta orang di bulan Juni 2024 dan terus bertambah per tahunnya. Sangat banyak, ‘kan? Melebihi setengah populasi masyarakat yang ada di Indonesia. Inilah mengapa saya pribadi tetap memilih menggunakan fesbuk untuk bermedia sosial.

Bisa dibilang saya dulu aktivis fesbuk, awokwkwkwk. Pernah aktif sekali di beberapa grup pecinta film sampai dapat medali top kontributor dengan komenan postingan bejibun, wkwk. Masa-masa itu, saya benar-benar aktif berinteraksi dan sharing-sharing tentang film yang saya gemari. Dari sana saya mendapatkan banyak sekali teman dari berbagai kalangan usia, ada yang sejawat (saat itu saya sedang duduk di bangku SMP), anak SMA sampai kuliahan, hingga ibu rumah tangga. Tentunya jadi pengalaman asyik karena untuk menunggu momen berbagi keseruan film, saya rela menunggu teman-teman saya aktif di jam yang sama. Maklum, di jam saya pulang sekolah, teman-teman dunia maya di kehidupan aslinya ada yang belum kelar sekolah, masih ngurusin anaknya, dan lain-lain.

Selain interaksi film, saya juga beberapa kali berhasil melakukan transaksi jual beli barang di marketplace. Transaksi di fesbuk agak tricky, tapi kalau paham dengan alur dan tipsnya, bukan hanya barang bagus yang kita dapat, tapi harga yang bersahabat dari hasil negosiasi.

Beberapa barang yang saya amankan ada Sally (sepeda kesayangan saya), buah-buahan lokal musim, dan makanan. Kalau untuk menjual barang di marketplace, saya sendiri beberapa kali memasarkan baju-baju dan barang pemakaian pribadi di sana dengan harga miring. Kalau kata orang-orang sih preloved, ya.

Rekor tercepat penjualan saya ada di waktu kurang dari 5 jam. Pagi bikin list jualan gantungan baju, siang sebelum dhuhur sudah diambil di tempat saya. Ga ribet pakai biaya admin sama mikir dropshipper, wong jangkauannya bisa diatur sesuai kebutuhan lokasi. Mantap memang fesbuk.

Itu contoh dari segi muamalah yang sangat aplikatif, efektif, dan efisien. Kalau soal fitur, bagi saya fesbuk juga adaptif. Sekarang sudah ada fitur cerita 24 jam (umumnya aplikasi Meta seperti Instagram dan Whatsapp), reels, dan mention pengguna. Jadi, kalau dari pembaca masih berpikir fesbuk itu aplikasi jadul, aplikasi orang tua, aplikasi yang harusnya punah saja, keknya perlu ditelaah lagi deh.

Tapi yaa balik lagi, tidak ada ciptaan manusia yang sempurna. Beberapa kali saya pernah dikecewakan dengan fitur dan kebijakannya. Seperti inovasi penggunaan messenger yang mengharuskan penggunanya untuk bertukar pesan di fesbuk hanya lewat aplikasi itu. Susah bener. Tapi kiranya mereka berbenah, sekarang aplikasi messenger bukan jadi keharusan, tetapi opsi pengguna.

Hmmm, keknya itu aja dulu deh. Kira-kira gimana menurut kalian, fesbuk di mata kalian apakah masih sangat relevan, relevan aja, atau udah usang dan ga seharusnya dipake lagi? Kalau aku sendiri sih selalu ada tempat tersendiri bagi fesbuk di lubuk hatiku, wkwk.

 

Sleman, 7 Oktober 2025

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apa Iya Selalu Ada Fesbuk di Hatiku?"

Posting Komentar