Apa Iya Selalu Ada Fesbuk di Hatiku?
![]() |
| tampilan tulisan facebook |
Kalau
ada tantangan untuk menghapus seluruh aplikasi di handphone dan menyisakannya
satu, mungkin saya akan pilih Facebook (baca: fesbuk). Bukan karena saya aktif
posting ini itu dan jadi seleb di sana, justru saya termasuk golongan
orang-orang yang jarang life update di fesbuk (untuk sekarang ini). Lalu apa
yang bikin saya susah hati untuk meninggalkannya? Jawabannya simpel, di fesbuk hampir
semuanya ada.
Mau
cari teman sesuai hobi dan minat, tinggal cari grup atau fanpage dengan kata
kunci yang diinginkan. Jual beli dengan jangkauan luas dan mudah? Buka fitur
marketplace atau ikut grup jual beli. Dari yang grosiran hingga eceran, semua
bisa diborong dengan nego tipis-tipis dari kedua belah pihak. Sekarang, mau
monetisasi juga sudah ada fesbuk pro, meskipun saya belum pernah mencobanya,
tapi tagar yang dipakai teman-teman fesbuk saya selalu berhasil buat saya
salfok.
Parahnya
lagi, dulu pas masih SMP, saya menonton film atau series dari fesbuk. Kalian ga
salah baca kok, dulu di fesbuk saya bener-bener nonton film yang durasinya hampir
dua jam itu. Gatau sekarang masih ada atau tidak, wkwk. Yang kayak gini harusnya
tidak boleh sih, jelas-jelas bajakan. Tapi zaman SMP dulu saya ya taunya film
yang berhasil di-up di internet berarti ya sudah jelas boleh dan halal ditonton
(dangkal memang).
Yaa
begitulah fesbuk, hampir semuanya ada dan mudah dijangkau. Tapi masalahnya, kok
masih banyak yang ‘ngece’ dengan kalimat “zaman sekarang kok masih main Fesbuk?!”.
Hmm, bro berpikir fesbuk adalah aplikasi primitif yang available sampai tahun
2020 saja. Salah besar, fesbuk lebih dari itu.
Dilansir
dari Goodstats, pengguna fesbuk mendominasi di berbagai kalangan usia, mulai
dari Gen z hingga lansia. Di Indonesia, total pengguna sebanyak 174 juta orang di bulan Juni
2024 dan terus bertambah per tahunnya. Sangat banyak, ‘kan? Melebihi setengah
populasi masyarakat yang ada di Indonesia. Inilah mengapa saya pribadi tetap
memilih menggunakan fesbuk untuk bermedia sosial.
Bisa dibilang saya dulu aktivis fesbuk, awokwkwkwk. Pernah aktif sekali di beberapa grup pecinta film sampai dapat medali top kontributor dengan komenan postingan bejibun, wkwk. Masa-masa itu, saya benar-benar aktif berinteraksi dan sharing-sharing tentang film yang saya gemari. Dari sana saya mendapatkan banyak sekali teman dari berbagai kalangan usia, ada yang sejawat (saat itu saya sedang duduk di bangku SMP), anak SMA sampai kuliahan, hingga ibu rumah tangga. Tentunya jadi pengalaman asyik karena untuk menunggu momen berbagi keseruan film, saya rela menunggu teman-teman saya aktif di jam yang sama. Maklum, di jam saya pulang sekolah, teman-teman dunia maya di kehidupan aslinya ada yang belum kelar sekolah, masih ngurusin anaknya, dan lain-lain.
Selain interaksi film, saya juga beberapa
kali berhasil melakukan transaksi jual beli barang di marketplace. Transaksi di
fesbuk agak tricky, tapi kalau paham dengan alur dan tipsnya, bukan hanya
barang bagus yang kita dapat, tapi harga yang bersahabat dari hasil negosiasi.
Beberapa barang yang saya amankan ada
Sally (sepeda kesayangan saya), buah-buahan lokal musim, dan makanan. Kalau untuk
menjual barang di marketplace, saya sendiri beberapa kali memasarkan baju-baju
dan barang pemakaian pribadi di sana dengan harga miring. Kalau kata orang-orang
sih preloved, ya.
Rekor tercepat penjualan saya ada di
waktu kurang dari 5 jam. Pagi bikin list jualan gantungan baju, siang sebelum
dhuhur sudah diambil di tempat saya. Ga ribet pakai biaya admin sama mikir
dropshipper, wong jangkauannya bisa diatur sesuai kebutuhan lokasi. Mantap
memang fesbuk.
Itu contoh dari segi muamalah yang
sangat aplikatif, efektif, dan efisien. Kalau soal fitur, bagi saya fesbuk juga
adaptif. Sekarang sudah ada fitur cerita 24 jam (umumnya aplikasi Meta seperti
Instagram dan Whatsapp), reels, dan mention pengguna. Jadi, kalau dari pembaca masih berpikir
fesbuk itu aplikasi jadul, aplikasi orang tua, aplikasi yang harusnya punah
saja, keknya perlu ditelaah lagi deh.
Tapi yaa balik lagi, tidak ada
ciptaan manusia yang sempurna. Beberapa kali saya pernah dikecewakan dengan
fitur dan kebijakannya. Seperti inovasi penggunaan messenger yang mengharuskan
penggunanya untuk bertukar pesan di fesbuk hanya lewat aplikasi itu. Susah bener.
Tapi kiranya mereka berbenah, sekarang aplikasi messenger bukan jadi keharusan,
tetapi opsi pengguna.
Hmmm, keknya itu aja dulu deh. Kira-kira
gimana menurut kalian, fesbuk di mata kalian apakah masih sangat relevan,
relevan aja, atau udah usang dan ga seharusnya dipake lagi? Kalau aku sendiri
sih selalu ada tempat tersendiri bagi fesbuk di lubuk hatiku, wkwk.
Sleman, 7 Oktober 2025

0 Response to "Apa Iya Selalu Ada Fesbuk di Hatiku?"
Posting Komentar